SEJARAH ROBOT DI INDONESIA

Indonesia juga Punya Robot

https://i0.wp.com/i.ytimg.com/vi/yuFUyl8GAiI/0.jpg

ITS baru saja menggelara Kontes Robot Indonesia dan Kontes robot Cerdas Indonesia. Ada baiknya saya terbitkan tulisan yang sebenarnya merupakan artikel saya di majalah ITS Point. Untuk mengingatkan kembali pada sejarah robotika di Indonesia dan ITS pada khususnya. Tulisan inilah yang untuk pertama kalinya membuat saya bergetar dan terharu saat menuliskannya. Terutama saat kemenagan robot ITS di kancah internasional. Sekali lagi, dengan pengorbanan dan keikhlasan besar untuk bangsa Indonesia, Indonesia kembali mengukir prestasi.

https://i1.wp.com/www.robotstorehk.com/micromouse/images/AIRAT2_2.jpg

Robot Micromouse, Awal Masa Depan Robotika PENS-ITS

Kesuksesan robot-robot PENS ITS di kancah nasional maupun internasional tak dapat lepas dari faktor masa lalunya. Siapa sangka, lahirnya kontes-kontes robot di Indonesia juga berawal dari ketekunan para generasi awal PENS ITS untuk terus melestarikan robotika. Padahal saat itu tidak ada dosen yang menekuni secara khusus bidang robotika. Bahkan robotika bukanlah ikon PENS, saat itu

Adalah Endra Pitowarno, tokoh yang pertama kalinya membawa aura robocon ke Indonesia. Menimba ilmu bersama keempat temannya di negeri Sakura selama setahun merupakan awal kisah perjalanannya dalam perkembangan robocon PENS ITS. Seekor robot micromause pemberian sensei-nyalah yang akhirnya mengilhami lahirnya robot-robot PENS lainnya.

Endra bersama empat dosennya menimba ilmu di Jepang dalam program training selama setahun sejak 1989. Sebenarnya, bidang yang dipeajari Endra tidaklah berhubungan langsung dengan robotika. Hanya saja, laboratorium tempatnya belajar sedang menggeluti proyek robotik yang menjadi ciri penelitian lab tersebut. Tempat mangkal yang sama, membuat intensitas pertemuan menjadi semakin erat tiap harinya. Hal inilah yang membuat ketertarikan Endra pada bidang robotik. Apalagi bidang Computer Engineering yang dipelajarinya mendapatkan semacam objek aplikasi yang tepat.

Sekembalinya ke tanah air tidak lantas aktivitas robotik Endra berhenti. Ia justru mencari mahasiswa yang berminat dalam bidang robotik. Selain untuk menemaninya menyalurkan “hobi” robotiknya, juga sekaligus sebagai proyek robotik berkelanjutan yang nantinya dapat dijadikan tugas akhir para mahasiswanya. “Alhamdulillah, ada sekitar 12 orang yang berhasil saya rayu waktu itu,” cerita Endra.

Bersama keduabelas mahasiswanya, Endra membangun semacam bengkel robot yang saat ini dapat dikatakan sebagai kuburan robot di ruang sekatan Lab Digital JJ-102. saat itu PENS masih bernama Politeknik Elektronika dan Telekomunikasi (PET ITS). Hingga saat ini, tempat yang kini bernama Lab Robotic Vehicle masih menjadi markas utama bidang robotika. Di ruangan yang pebuh dengan rongsokan robot itu pulalah, Endra menghabiskan sebagian besar waktunya.

Kepulangan Endra dan rekan-rekannya juga disertai supervisor masing-masing bidang dari Jepang. Selain mengajar selama setahun di Jepang, para expert tersebut tetap meneruskan bimbingannya pada murid-muridnya di Indonesia. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Endra. Kedua belas mahasiswanya yang tengah mengerjakan proyek Robot Micro Mouse dan Robot Route Runner diminta untuk melakukan seminar kecil berbahasa inggris. Terhitung ada tiga seminar yang dilaukan dalam setahun, kala itu.

Alhasil, para expert dari Jepang tersebut mengetahui kalau orang Indonesia bisa membuat robot. Matsumoto sensei, pembimbing Endra Pitowarno pun sempat menantang pihak PET-ITS untuk berlomba di kontes micromouse yang saat itu akan berlangsung di Jepang. Endra tidak segera menjawab mengingat umur micromouse mahasiswanya masihlah bayi. Matsumoto pun setengah resmi mengajukan tantangannya. Namun pada suatu hari, setelah berunding dengan expert lainnya, Matsumoto-sensei dan rekannya menyampaikan bahwa PET-ITS diundang oleh Nippon Hooso Kyokai (NHK) untuk berlaga dalam NHK Robocon 1991.

Pihak PET-ITS pun menerima tantangan tersebut. Maka dimulailah perjuangan pertama PET yang juga dikenal sebagai EEPIS di kancah Robocon. Endra Pitowarno pun didalat menjadi pembimbing. Berbeda dengan Kontes Micromouse, NHK Robocon merupakan ajang lokal yang mempertandingkan antar politeknik di Jepang. Jadi, saat itu PET-ITS merupakan satu-satunya peserta dari negara lain atas undangan NHK. Berbeda dengan micromouse, Robocon lebih menekankan pada kerjasama tim dan penerapan teknologinya. “Inilah awal pembuka mata kita, bahwa dunia robot kaya akan parameter dan variable yang membuat kita tidak pernah berhenti untuk berinovasi dan terus berpikir,” terang Endra.

Tanpa diduga, robot PET-ITS yang bernama Bima X-1 mampu mengalahkan robot dari Kyoto pada pertandingan pertamanya. Meskipun kalah pada pertandingan berikutnya, hal tersebut tetap dianggap keberhasilan yang membanggakan karena memang tidak ada target apapun. Bahkan bisa bergerak saja sudah cukup. Bahkan yang lebih membanggakan adalah dinobatkannya Bima X-1 sebagai The Best Idea. “Tidak jelas apa kriteria juri, yang jelas robot kami berhasil memukau penonton karena memiliki ciri khas yang tidak dimiliki tim lain,” kenang Endra lagi.

Itulah cerita yang mengawali robotika di PENS-ITS khususnya dan di Indonesia secara umum. Banyak pihak saling klaim terkait siapa dibalik apa dalam kisah robocon Indonesia. Dalam portalnya pun Endra mengharapkan, cerita ini dapat meluruskan sejarah yang menagwali dunia robocon di EEPIS-ITS yang kelak terus berkembang ke seluruh Indonesia.

Lahirnya Kontes Robot Indonesia

Sejak kepulangan BIMA X-1 , rakyat PET-ITS semaikn akrab dengan dunia robotik dan Robocon. Hal ini membuat semarak kerja keras semakin intens di PET-ITS dalam membaut robot. Pihak Jepang (JICA) dan NHK pun kembali mengundang PET-ITS dalam NHK Robocon 1992.

Ternyata, NHK Robocon 1992 merupakan ajang terakhir yang diikuti PET-ITS dalam kontes antar politeknik di Jepang. Membawa robot CARAKA Xh, PET_ITS yang membawa bendera merah putih mengejutkan Jepang dengan menembus semifinal. Hal ini sempat membuat was-was pihak Jepang, sebab apa jadinya jika orang asing yang harus membawa piala bergilir kontes lokal. Namun begitu, akhirnya CARAKA Xh dikalahkan dengan skor tipis. Hanya kalah satu bola. Juara 3 pun berhasil dibawa pulang ke tanah air.

Tidak diundangnya PET-ITS dalam NHK Robocon 1993 justru mendorong untuk membuat sendiri kontes robot lokal. Temanya pun mengadopsi kontes serupa pada tahun yang sama yang diadakan di Jepang. Inilah cikal bakal Kontes Robot Indonesia (KRI) yang semula bernama Indonesian Robot Contest (IRC).

Terdapat delapan tim dari empat institusi peguruan tinggi yang berlaga dalam IRC 1993 kala itu. Lapangan Merah PENS pun didaulat menjadi arena berlangsungnya perlombaan. PET-ITS sendiri mengirim tak kurang dari empat tim. Pembimbing pun sudah mulai menjamur pada waktu itu. Satu tim saja terdiri dari dua pembimbing. Total, terdapat delapan pembimbing dari PET-ITS. Sedangkan peserta lain berasal dari Poltek UI, Poltek Bandung, dan Universitas Diponegoro.

Endra Pitowarno selaku Ketua Panitia saat itu menceritakan IRC93 tidak sekedar ajang bertanding untuk meraih gengsi. Di situlah terbangun kebersamaan antar tim dalam meraih kemajuan teknologi robotika tanah air. Hal ini ditandai dengan dibukanya beberapa Lab dan Bengkel PES-ITS untuk membantu seluruh peserta memperbaiki kinerja robotnya. “Sesuatu yang biasa terjadi di saat-saat pertandingan justru robot banyak mengalami masalah,” ungkap Endra.

Inilah kiranya momen pertama kontes robot Indonesia. Di kemudian hari tercatatlah IRC93 sebagai pembuka cakrawala baru robocon nasional dan didaulat sebagai Kontes Robot Indonesia (KRI) yang pertama.

Hingga 2007 kemarin sudah 9 kali KRI digelar. Dimana sejak tahun 2002, KRI rutin diadakan sekali dalam setahun. Tidak hanya KRI, atas usulan pihak Universitas Indonesia, sejak tahun 2004 dilangsungkan pula Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) bersamaan dengan digelarnya KRI. Beberapa tahun terakhir peminat KRI dan KRCI mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini terlihat dari jumlah pendaftar yang setiap tahun semakin bertambah. Tahun 2007 saja tercatat 138 pendaftar untk KRI dan 205 untuk KRCI. Menandakan Robot semakin digandrungi di Indonesia.

Menuju Ajang Internasional

Sukses menggelar IRC93, tahun 1995 PET-ITS kembali dilirik oleh NHK Jepang. Namun kali ini ditantang untuk berlaga dalam Robocon level universitas yang mempertemukan tim-tim dari beberapa perguruan tinggi di Jepang. Kontes ini juga mengikutsertakan peserta dari Negara asing seperti Prancis, Australia, China, dan Thailand. Inilah awal mula keikutsertaan Indonesia dalam ajang Robocon Internasional.

Mengingat kelasnya yang berbeda dengan yang diikuit sebelumnya, tim dari PET-ITS sadar spesifikasi robot yang harus dibuat ternyata memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi dari kontes sebelumnya. Salah satu spesifikasi yang baru dijumpai adalah robot harus mampu membawa driver yang bobotnya lebih dari 50 kg. Selain itu robot juga mesti dilengkapi sistem kontrol berbasis prosesor beserta sensor-sensornya demi menunjang self running robot. Seperti tahun 1991, kembali tim harus meraba-raba memang belum ada referensi rancang bangun robot untuk Robocon level universitas.

Namun begitu, robot Trada bersama tim tetap berangkat dengan semangat tinggi. Meskipun kurang maksimal, kontes pertama taraf Internasional yang diikuti PET-ITS berhasil membawa penghargaan Best Spirit.

Selanjutnya, dengan tidak terkalahkannya tim-tim PENS ITS di KRI, setiap tahun sang jawara KRI selalu berangkat dalam ajang Abu Robocon. Berbagai prestasi terus diukir oleh arek-arek PENS ITS. Terakhir, robot G-Rush hampir saja menjadi Juara 1 jika tidak dikalahkan pada Final Abu Robocon 2007 di Hanoi, Vietnam. Sedangkan momen yang paling membanggakan adalah capaian puncak dengan menjadi Juara 1 pada kontes yang sama di Fukushima, Jepang tahun 2001 dengan robot B-CAK.

Tulisan ini merupakan hasil wawancara dan pencarian data langsung dari empunya robot ITS. Endra Pitowarno.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s